Renungan Jum,at


Wahai anakku, Allah swt telah berkata : Ketika Aku menjadikan mahluk, maka semua mengaku cinta pada-Ku. Kemudian aku membuat dunia, maka lari dari-Ku 90% (untuk mendapatkan dunia dan meninggalkan Allah), Kemudian Aku membuat surga, maka larilah dari-Ku 90% dari yang tersisa (untuk mendapatkan surga dan meninggalkan Allah). Kemudian aku membuat neraka, maka larilah dari-Ku 90% dari yang tersisa (untuk menghindari neraka dan meninggalkan Allah). Kemudian aku turunkan bala (bencana), maka larilah dari-Ku 90% dari yang tersisa (untuk menghindari bencana, dan meninggalkan Allah).

Maka Aaku bertanya kepada sisa yang tinggal itu. Dunia kamu tidak mau, sorga kau tak suka, neraka kau tidak takut, dari bala dan musibat kamu juga tidak lari, maka apakah keinginanmu?

Mereka menjawab : Engkau maha mengetahui keinginan kami. (kami hanya menginginkan yang satu (ahad) yaitu Engkau)

Aku berkata : Aku akan menuangkan kepadamu bala yang bukit besar pun tak akan sanggup menanggungnya, sabarkah kamu ?

Jawab mereka : Apabila Engkau yang menguji, maka terserah padaMu (berbuatlah sekehendak-Mu).

Maka mereka itulah hambaKu yang sebenarnya….

Anakku, begitu banyak buku yang menulis tentang cinta, bahkan dinilai paling banyak dibandingkan dengan pengalaman hidup manusia lainnya. Banyak orang yang berusaha menorehkan kalamnya ke kertas untuk menuliskan keindahan cinta. Tetapi di balik itu semua, sisi cinta terindah yang dimiliki oleh manusia adalah cinta kepada Tuhannya. Suatu cinta di mana manusia kehitangan ego-nya, dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada cintanya kepada Allah.

Orang yang benar-benar mencintai kekasihnya tidak akan pernah memperdulikan kekayaan, kekuasaan, dan apapun yang dimiliki kekasihnya. Selain itu Ia pun akan bertahan terhadap badai yang akan dilaluinya bersama kekasihnya. Baginya, kekasihnya merupakan sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu semua. Ia akan mencintai kekasihnya dengan tulus, walaupun tanpa diiming-imingi.

Demikian juga dengan cinta para aulia (kekasih Allah) dan para Wali Allah. Mereka mencintai dan beribadah kepada Allah dengan tulus, tanpa memikirkan apa yang akan mereka dapatkan dari ibadahnya. Para Wali Allah bahkan tidak takut kepada bala yang akan ditimpakan Allah kepada mereka. Karena mereka menyadari bahwa bila Allah berkasih sayang kepada seorang hamba, maka akan dituangkan-Nya bala. Bila seorang wali Allah ditimpa bala, mereka akan berdoa. Dan ketika si hamba berdoa, maka malaikat berkata : “Suara yang sudah dikenal”. Jibril berkata : “Tuhanku, hambamu si Fulan menyampaikan hajatnya. Allah menjawab : “Biarkan hambaKu, aku suka mendengar suaranya. Maka bila si hamba berkata : “Yaa Rabbi …” Maka Allah menjawab : “Labbaika hambaku, tiada engkau berdoa, melainkan Aku sambut, dan tiada engkau meminta, melainkan pasti aku berikan. Imma (ada kalanya) Aku segerakan untukmu, atau Aku simpan untukmu yang lebih baik bagimu, atau aku tolak daripadamu bala yang lebih besar itu.

Berdasarkan kecintaan itu, seorang kekasih Allah akan mampu menghamba kepada Allah dengan tulus dan ikhlas, tanpa merasa butuh kepada surga yang dimiliki Allah, juga tidak berusaha menghindar dari keburukan neraka yang dimiliki Allah. Mereka beribadah kepada Allah semata-mata karena kecintaan mereka, dengan suatu bentuk kecintaan yang dirasakan oleh dua kekasih yang sedang berkasih-kasihan.

Sesungguhnya jika manusia meminta surga atau meminta terhindar dari – neraka atas amalan yang telah dilakukannya, maka hal itu berarti ia telah meminta upah atas apa yang telah dikerjakannya. Seseorang pantas meminta upah jika dia memberikan manfaat kepada pemberi upah atau menghindarkan si pemberi upah dari tertimpa kemadtorotan.

Ketika seseorang beribadah, ia sama sekali tidak memberikan manfaat kepada Allah. Allah tak diuntungkan dari ibadah manusia. Demikian juga jika manusia tak beribadah, hal ini sama sekali tidak memberikan kemadlorotan kepada Allah. Bahkan jika semua manusia berbuat dosa, sama sekali tidak merubah kedudukan Allah sebagai Rabb. Lalu mengertikah kau, anakku, kenapa manusia masih merasa pantas menerima-surga atau terhindar dari neraka sebagai upah dari amalannya ?

Dengan pemberian upah, maka harga amalanmu menjadi murah. Tetapi dengan amalan yang tulus, maka harga amalan melonjak tinggi, melesat ke langit sampai ke arsy Allah swt.

Lagi pula amal ibadah seseorang tak akan sanggup menyampaikan seseorang ke surga jika tidak dibarengi dengan rahmat Allah. Dalam hal ini Allah menurunkan beberapa rahmatnya sekaligus. Allah dengan Al-Rahimnya telah melipatgandakan nilai ibadah umatnya (tapi tidak nilai dosanya), dan Allah dengan Al Ghofurnya telah memberikan ampunan dosa yang tak terbatas (kecuali syirik) kepada umatnya. Maka fahamilah bahwa masuknya seseorang ke surga adalah karena kasih sayang dari Allah pada umatnya, bukan hasil amalannya. Bahkan puasa 300 tahun dan ibadah yang terus menerus selama itu, hanya sanggup mengimbangi nikmat berupa diberikannya sebelah mata oleh Allah. Maka demi Allah, DIA adalah dzat yang pantas untuk diibadahi.

Pantaskah kita mendapat surga, jika amalan kita hanya sholat lima waktu ? (Sekitar 25 menit (2%) dari 24 jam sehari) Pantaskah kita terhindar dari neraka jika kita sering melakukan persetujuan dengan setan dalam berbuat dosa ?

Jika saja bukan karena sumpah Allah untuk memenuhi neraka dengan orang-orang kafir dari golongan jin dan manusia seluruhnya, dan jika saja bukan karena sumpah Allah untuk memenuhi surga dengan orang-orang beriman, maka terdapat sebagian para wali yang berkeinginan untuk mengisi neraka dengan es, dan menghiasi surga dengan api, agar ibadah yang dilakukan manusia tidak lagi untuk surga atau terhindar dari neraka, melainkan murni hanya untuk Allah. Bukan yang lain.

Dalam hal ini Rabiah Al Adawiyah bersyair :

Ya Allah,
Jika aku menyembah-Mu karena takut dari pada api nerakaMu
Maka Bakarlah aku di dalamnya !
Jika aku menyembah-Mu karena tamak kepada surga-Mu
Maka haramkanlah aku daripadanya !
Tetapi jika aku menyembahmu karena kecintaanku kepadaMu
Maka berikanlah aku balasan yang besar,
Yaitu melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu

Di waktu yang lain Rabiah Al Adawiyah menyatakan cintanya kembali kepada Allah

Wahai Allah
Berikanlah surga-Mu kepada para ahli ibadah
Dan berikanlah nerakamu, kepada pada pendosa
aku tak butuh kepada keduanya
untukku, cukuplah Engkau….

Nah anakku, malulah engkau kepada Allah, jika ibadahmu karena menginginkan surga atau menghindari neraka. Allah telah menciptakan surga dan neraka BUKAN untuk diibadahi, Beribadahlah bukan karena pemberian, tetapi beribadahlah karena DIA memang pantas untuk disembah.

Anakku, jika nanti (berandai-andai) engkau dianugerahi tiga orang putra. Putra yang pertama mengikuti perkataanmu karena menginginkan uang jajannya ditambah. Putra kedua mengikuti perkataanmu karena takut dimarahi atau dihukum olehmu ketika melanggar. Sedangkan putra ketiga mengikuti perkataanmu karena kecintaannya kepadamu. Putra yang manakah yang mendapatkan cinta terbesarmu ?

Karena itu,

* Anakku, jika engkau beribadah kepada Allah, Jangankah karena takut pada-Nya Sehingga engkau serupa saja dengan budak yang buruk, yang bekerja dengan rasa takut terhadap hukuman majikannya.
* Anakku, jika engkau beribadah, janganlah karena mengharapkan surga, sehingga engkau serupa dengan budak yang buruk, yang harus diiming-imingi sesuatu untuk agar mau bekeria
* Anakku, beribadahlah engkau kepada Allah, Karena rasa cinta dan rindumu kepada- Nya. Dan karena DIA dengan segala keMaha-an-Nya memang pantas untuk diibadahi.
* Sungguh, bermuwajahah (bertemu wajah) dalam kebersamaan dengan Allah adalah kenikmatan puncak, yang jauh lebih besar kenikmatannya ketimbang kenikmatan surga. Tapi jika kekasihmu, Allah, memaksamu untuk menerima surga-Nya. Terima saja. Tak baik menolak pemberian kekasih, walaupun kenikmatan surga tak ada artinya tanpa kehadiran-Nya menyertaimu. Janganlah sampai kau berpaling dari Allah karena kenikmatans surga.

Nah, anakku, dekati Allah sedekat-dekatnya. Jika dalam proses tersebut Allah berkenan “memperkenalkan diriNya” kepadamu, maka akan terbuka semua hijab (penghalang), dan akan terbuka semua rahasia keTuhanan, akan dibukakan kepadamu manazil al-qurubat, dan berkelilinglah ruh-mu di alam malakut, merindukan belaian kasih sayang-Nya, merindukan perjumpaan dengan-Nya, sehingga engkau menghampiri-Nya seperti menghampiri seorang kekasih

Jika surga dan neraka tak pernah ada, masih kah kau mau menyembah-Nya ?
(H. Agung R.)

Perihal Dot
DOT Productions Owner, kami bergerak di bidang jasa Percetakan, Advertising, yang sudah beroperasi sejak tahun 2000. Selain itu kami Juga Merintis sebuah Band Underground dengan konsep Pelestarian budaya bangsa pada khususnya Kuda Lumping. Band dengan Tittle "Debis Of ancesTor" Atau DOT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: