Mencuri berita langit !!


Khot

Khot

Pada masa pra-Islam, ramalan yang berkembang di masyarakat tercatat ada empat macam;

1. Ramalan yang diperoleh dari informasi jin yang mencuri dengar dari suara langit yang kemudian dibisikkan ke tukang ramal. Pra-Islam, banyak tukang sihir memiliki pridiksi ramal yang akurat, namun pasca kedatangan Islam, validitas ramalan mereka relatif menurun dan mengalami kekacauan. Hal ini memang ditegaskan dalam aL-Qur’ân, bahwa setelah Islam datang dan aL-Qur’ân turun, langit dijaga dan menjadi zona yang tidak bisa jangkau oleh syaitan. Hal ini dijelaskan dalam Ash-Shôffât : 10.

2. Ramalan yang diperoleh dari informasi jin yang bekerja sama dengan manusia dari hal-hal di luar pengetahuan manusia.

3. Ramalan yang diperoleh dari dugaan dan firasat.

4. Ramalan yang diperoleh dari eksperimen dan kebiasaan, demikian juga ramalan yang mengacu pada petunjuk bintang.

Sikap Islam Terhadap Praktek Ramalan Astrologi

Astrologi (ilmu at-tanjim) atau sistem peramalan, ilmu ini dikelompokkan menjadi dua. Pertama, ilmu astrologi hisâbiyyah, yaitu menentukan permulaan bulan melalui teori perhitungan perjalanan bintang. Ulama sepakat akan legalitas ilmu ini guna kepentingan tersebut dan untuk menentukan waktu-waktu shalat serta arah kiblat, bahkan mayoritas ulama menyatakan sebagai kewajiban kolektif (fardlu kifâyah). Kedua, ilmu astrologi istidlâliyyah, yaitu ilmu ramalan peristiwa-peristiwa di bumi yang mengacu pada gerakan angkasa. Jenis astrologi kedua inilah yang dilarang dalam Islam apabila meyakini bahwa tanda-tanda simbolis angkasa atau zodiak bisa menunjukkan pengetahuan gaib atau yang mengendalikan nasib dan peristiwa bumi. Apabila ramalannya didasarkan hanya pada kebiasaan kondisi alam tertentu, dan semuanya tetap dikembalikan pada kehendak dan kekuasaan Allâh, seperti perkiraan cuaca, arah angin, musim dan lain-lain, maka hukumnya diperbolehkan. Hal ini sesuai sabda Nabi saw. dan sebuah hadits qudsi;

“Ketika laut menguap, lalu menyebar, maka itu (pertanda) musim hujan”.

“Hamba-hambaku akan menjadi iman dan kafir dengan-Ku, hamba yang mengatakan; kita dihujani karena anugrah Allah, maka ia beriman dengan-Ku dan kafir dengan bintang, dan hamba yang mengatakan; kita dihujani karena keadaan bintang tertentu, maka dia kafir dengan-Ku dan iman dengan bintang.”

Astrologi istidlâliyyah yang dilarang dalam ajaran Islam adalah lantaran ia merupakan sebuah pengetahuan yang berpotensi menyesatkan jiwa manusia. Bahaya yang melekat dalam astrologi dapat menyebabkan manusia dalam kondisi bayang-bayang (ilusi) atau fitnah, sekalipun pada dasarnya ia hanya didasarkan pada pengetahuan simbolis kosmologis. Jika suatu peramalan didukung oleh kebenaran fakta, maka jiwa akan terpedaya oleh pengaruhnya dalam ketidaknyataan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits; “sungguh ketika seorang peramal mengatakan suatu kebenaran, tidak lain adalah kebohongan”. Dalam riwayat lain; “kalimat yang diucapkannya adalah dari kebenaran yang didengar oleh jin lalu dibisikkan di telinga pengikut-pengikutnya dengan dicampur seratus kebohongan.”
Lebih dari itu, Islam memerintahkan untuk berpasrah diri kepada ketentuan nasib (takdir), dan sikap ini sangat penting untuk membebaskan diri dari segala bentuk peramalan. Doktrin Islam tidak mengenal praktek peramalan astrologis, karena hal ini secara tidak langsung berarti menghapuskan kedudukan Tuhan dalam diri manusia. Dalam aL-Qur’ân Allâh berfirman; “Bagi-Ku semua nasib”.

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, (QS. An-Naml : 65).

Fatwa Syeikh Ba Makhromah
Tentang ; Ilmu Perbintangan (Ilmu Nujum)
.Ilmu perbintangan itu beragam : ada yang wajib di pelajari, yaitu ilmu nujum yang digunakan untuk mengetahui waktu-waktu sholat, arah kiblat dan lain-lain. Ada yang dihukumi sunnah, yaitu yang digunakan petunjuk dalam perjalanan. Ada yang makruh, yaitu yang digunakan untuk mengetahui kapan terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan. Dan ada juga yang haram, yaitu yang digunakan untuk mengetahui hal-hal yang ghaib seperti kesembuhan panyakit atau waktu kematian atau mencari jejak pencuri. Menurut komentar syekh Al-Iyadl : ahli perbintangan termasuk golongan tukang ramal.

Fatwa Syeikh Zainuddin Bin Abdul Aziz Al-Malaibari
Tentang ; Ilmu Ramal, Ilmu Perbintangan, Ilmu Untuk Mengetahui Hal-Hal Yang Akan Terjadi
-Kahanah yaitu: mengabarkan hal-hal yang ghaib yang akan terjadi pada masa masa mendatang, mengaku punya ilmu ghaib dan menyatakan jin telah memberitahukan kepadanya.
-‘Irofah adalah: mengaku bisa mengetahui pencuri atau tempat barang yang hilang.
-Thoiroh adalah: meramalkan hal-hal yang buruk dengan sebab terjadinya sesuatu.
-Tanjim adalah: pengakuan seorang ahli perbintangan tentang kejadian-kejadian yang akan datang seperti datangnya hujan, banjir, bertiupnya angin, perubahan harga-harga barang dan lain lain. Ia menyangka bisa mengetahui semua itu dengan berdasarkan peredaran bintang-bintang. Karena menurut mereka, bintang-bintang itu kadang-kadang bersamaan, berpisah atau nampak pada waktu-waktu tertentu.
Semua ini adalah ilmu yang hanya bisa diketahui Allah, tak seorangpun bisa mengetahuinya, dan barang siapa mengaku bisa mengetahui maka ia termasuk golongan orang fasiq dan terkadang bisa menimbulkan kekufuran.

Perihal Dot
DOT Productions Owner, kami bergerak di bidang jasa Percetakan, Advertising, yang sudah beroperasi sejak tahun 2000. Selain itu kami Juga Merintis sebuah Band Underground dengan konsep Pelestarian budaya bangsa pada khususnya Kuda Lumping. Band dengan Tittle "Debis Of ancesTor" Atau DOT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: