Ini dia, Museum Santet Indonesia.


Museum Santet

Museum Santet

Dua foto rontgen di Museum Kesehatan dr Adhyatma MPH milik Pusat Penelitian dan Pengembagan Sistem dan Kebijakan Kesehatan Depkes Surabaya memperlihatkan gotri, paku, dan jarum bersemayam di usus manusia. Tak cuma memajangnya, museum ini juga melakukan kajian ilmiah fenomena yang bisa dibilang unik dan “tahayul’ untuk sebagian mereka yang kurang mempercayainya hal ini.

Bagian budaya santet ini menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung yang tak hanya berasal dari domesik namun juga manca negara seperti Malaysia dan Singapura. Tak hanya berkunjung, kadang para wisatawan study ini juga menghibahkan barang – barang pribadinya untuk bisa dikoleksi sekaligus di teliti di museum ini.

Meski banyak mengkoleksi benda – benda mistis, namun pihak museum belum pernah mengadakan “pencucian” pada benda -benda tersebut al hasil benda – benda mistis tersebut kadang kehilangan kekuatan magic nya, – sangat disayangkan.

Yang terasa janggal, di antara benda-benda kesehatan budaya seperti peranti santet dan hasil-hasil pengobatan santet, di museum yang berlokasi di Jalan Indrapura 17 Surabaya ini juga terdapat mikroskop.
Keberadaan mikroskop di museum ini tidak cuma melengkapi interior ruangan, namun menjadi rangkaian peranti santet yang dipamerkan. Menurut HS, mantan peneliti utama Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan Depkes Surabaya, mikroskop ini kerap digunakan untuk meneliti jenis jaringan (tubuh) setelah seseorang mendapatkan pengobatan secara supranatural dari penyakit santet. Salah satunya hasil penelitian jaringan yang didapat dari operasi dukun di Jawa Tmur tahun 1999.

“Kami tidak bisa percaya begitu saja jaringan yang katanya berhasil dikeluarkan dari pengobatan supranatural. Karena itu harus diteliti,” terang HS yang menolak menyebutkan nama lengkapnya demi alasan keselamatan.

Bagaimana hasil kajiannya? HS menolak menjelaskan dengan alasan semua hasil kekuatan batin atau rasa tidak bisa dijelaskan secara nalar. Hal itu, lanjut pria bertitel doktor ini, akan merusak sistem ilmu batin yang ada saat ini. “Jangan sampai rahasia yang ada di kekuatan rasa itu hilang. Ilmu pengetahuan (iptek) bukan segala-galanya,” ujarnya.

Diakuinya, sejumlah hasil kajian ilmiah memang bisa menyentuh kekuatan rasa itu. Seperti tertangkapnya sejumlah benda-benda keras di dalam tubuh manusia pada dua hasil rontgen yang dipajang di museum itu.
Hasil rontgen pertama milik orang dewasa yang menunjukkan adanya gotri dan paku yang berada di dalam usus. Menurut HS, benda-benda tersebut adalah pemberian dari dukun sebagai obat. Namun, benda-benda itu tidak dapat keluar bersama kotoran selama dua minggu. “Kedua benda ini baru bisa dikeluarkan setelah diberikan tenaga dalam,” terang HS tanpa mau menyebut nama pasien dan rumah sakit yang mengeluarkan rontgen itu.

Rontgen yang kedua milik seorang bayi berusia tiga bulan yang dirawat di RSU dr Soetomo, Surabaya, tahun 1962. Di rontgen itu tampak jarum di dalam usus dan di dalam rongga perut/abdomen. Benda-benda tersebut berada di tubuh bayi yang saat itu dalam keadaan panas tinggi. Pasien tidak bisa tertolong, tapi sebelum meninggal bayi itu di-rontgen dan terlihat jarum di rongga perutnya.

“Benda-benda ini memang berhasil difoto, tapi yang masih menjadi pertanyaan kan bagaimana benda-benda ini bisa masuk dan keluar dari dalam tubuh manusia,” kata HS. Menurut pria beruban ini, kekuatan otak yang ada di tubuh manusia tetap pada batasannya. Di luar itu ada unsur rasa dan hati manusia, dan itu tidak harus semuanya diilmiahkan. “Kalau semua diilmiahkan unsur rasanya akan hilang. Biarlah unsur rasa itu tetap ada menjadi rahasia alam ini. Ilmu itu milik Allah, manusia hanya mendapatkan sebagian kecil dari ilmu Allah. Itu harus dipahami,” kata HS yang kini sudah pensiun dari Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan Depkes.

Mabaroch SSos, Kepala Subbidang Jaringan Informasi dan Perpustakaan, Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan Depkes, memberi kesempatan kepada ilmuwan untuk mengkaji fenomena rasa/batin di museum itu ke dalam sebuah penelitian ilmiah. “Kami tidak mungin memaksa bahwa fenomena ini ada. Tapi kami menantang untuk membuktikannya,” kata Mabaroch.

Nah, pertanyaannya sekarang, apakah anda berminat untuk ikut meneliti benda – benda mistis ini? yang pasti mereka yang tidak percaya dengan hal – hal demikian pun tak berani di jadikan sebagai kelinci percobaan.
(referensi:Kompas .com)

Perihal Dot
DOT Productions Owner, kami bergerak di bidang jasa Percetakan, Advertising, yang sudah beroperasi sejak tahun 2000. Selain itu kami Juga Merintis sebuah Band Underground dengan konsep Pelestarian budaya bangsa pada khususnya Kuda Lumping. Band dengan Tittle "Debis Of ancesTor" Atau DOT.

5 Responses to Ini dia, Museum Santet Indonesia.

  1. Ping-balik: Ternyata Gus Dur Pun Pernah Kena Santet | Bani Madrowi

  2. Dot says:

    Setuju banget, Apa pak Cipto ingin menulisnya? saya dukung deh, sukses buat pak Cipto ya….

  3. cipto says:

    kayaknya masyarakat umum perlutahu fenomena dibalik santet pwrlu diterbitkan buku yng mengupas fenomena ini sebagai pembelajaran..museum ini bisa jadi pionernya nih..

  4. Dot says:

    Gimana mas? mau kesana, atau mau nyobain…hehehe….becanda, jangan marah….ikikikik

  5. agus deso says:

    museum santet…ada ya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: