‘Bisnis Seks di Balik Jeruji di Penjara’


 

Seks di balik jeruji di penjara

Seks di balik jeruji di penjara

 

“Bisnis seks di balik jeruji di penjara” bikin heboh negeri ini. ketika sebuah stasuin TV Nasional sekelas SCTV hendak menayangkan sebuah acaranya dengan tajuk SIGI beberapa hari yang lalu tepatnya Rabu  13/10/2010   pukul 23.00 WIB. dikabarkan mendapatkan intervensi dari Kemenkum HAM yang menilai hal itu sebagai pelanggaran kode etik Jurnalistik.

Sementara AJI (Aliansi Jurnalistik Independent) mengatakan

“Intervensi pemerintah dan pemilik modal telah menodai kesucian ruang redaksi,” kata Ketua AJI Jakarta Wahyu Dhyatmika dalam siaran pers, Kamis (14/10/2010).

Sejatinya, tulis AJI, liputan ‘Bisnis Seks di Balik Jeruji di Penjara’ akan tayang pada Rabu (13/10) pukul 23.00 WIB dalam program Sigi.

“Program Sigi itu sebenarnya sudah disiapkan lama. Jurnalis SCTV melakukan investigasi dengan membawa kamera tersembunyi,” jelasnya.

Pihak Kemenkum HAM yang diwawancarai sebagai konfirmasi menolak diwawancarai. Karena sudah maksimal redaksi SCTV tetap menayangkan liputan itu.

“Sampai saat terakhir pihak Kemenkum HAM berusaha menunda penayangan program itu. Namun redaksi menolak penundaan, hingga kemudian pemilik stasiun televisi turun tangan dan redaksi membatalkan liputan itu,” jelas Wahyu.

AJI telah berupaya keras menghubungi pihak Kemenkum HAM namun tidak diberikan tanggapan. AJI menilai tindakan intervensi melalui pemilik TV sebagai bentuk yang kasar.

“AJI mengacam keras Kemenkum HAM karena melanggar UU Pers dan menyesalkan manajemen SCTV yang tunduk pada intervensi,” urai Wahyu.

AJI juga melaporkan tindakan intervensi ini ke Dewan Pers dan ke Komisi Penyiaran Indonesia.

“Sebab sesuai UU Pers pasal 18 pelarangan siaran pers diancam pidana penjara 2 tahun atau denda Rp 500 juta,” terangnya.

Sedang pihak SCTV yang dihubungi tidak bersedia memberikan komentar. Namun sumber di SCTV mengakui adanya intervensi itu.

Sejak 3 hari lalu pihak Kemenkum HAM sudah meminta redaksi untuk membatalkan penayangan liputan itu. Namun itu semua tidak mempan. Bahkan pihak Kemenkum HAM sampai datang ke kantor SCTV di Senayan City. Dan akhirnya pihak pemilik SCTV meminta redaksi membatalkan penayangan kepada redaksi.

Nah, apa dikata. bagaimanapun menyembunyikan bangkai se rahasia – rahasianyapun akan tetap tercium baunya. Sudahlah, rakyat sudah bosan dengan semua ulah oknum yang sok sinetron buat alasan ini dan itu yang hanya untuk mengulur – ulur waktu supaya “kontrak tayangnya” terus berlanjut. Bersembunyi di balik hukum sebagai tameng untuk meloloskan diri dari kebobrokan yang hampir terungkap. Ampun,…

Sebagai sebuah perusahaan yang tentunya tak bisa dengan seenaknya menayangkan program, kemudian menjadikannya terpenjara justru karena undang – undang. Kemudian yang timbul dalam benak yang berprasangka buruk adalah ternyata Undang – undang pulalah yang menghancurkan kebaikan – kebaikan yang muncul. bukan sebaliknya.

Hak Asasi Manusia untuk mendapatkan informasi seluas – luasnya pun ikut – ikutan di kebiri. lalu jika sudah demikian kepada siapa lagi kebenaran ini bisa di nantikan kemunculannya meskipun pada akhirnya tetap saja kemunculannya tak mampu berbuat apa- apa. Ironis memang.

Perihal Dot
DOT Productions Owner, kami bergerak di bidang jasa Percetakan, Advertising, yang sudah beroperasi sejak tahun 2000. Selain itu kami Juga Merintis sebuah Band Underground dengan konsep Pelestarian budaya bangsa pada khususnya Kuda Lumping. Band dengan Tittle "Debis Of ancesTor" Atau DOT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: