Kereta Batik meluncur di Jakarta


Souvenir_Kereta Batik_Sedikit berlari Burhan menaiki Peron Stasiun Gambir menuju Kereta Argo Jati Jurusan JakartaCirebon. Pagi ini dia berencana pulang ke rumah orang tuanya di Cirebon. “Saya terlambat dari rumah,” kata dia hari ini Jumat 20 Mei 2011 di Jakarta. Sesampai di peron, Burhan mengaku sedikit terkejut dan penasaran. Puluhan orang berkerumun di dua gerbong kereta berselubung kain kuning. Di antara kerumunan itu ada Menteri Badan Usaha Milik Negara, Mustafa Abubakar, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, dan Direktur PT Kereta Api Indonesia, Ignatius Jonan. Ketiganya datang untuk meresmikan peluncuran kereta batik.

Pukul 08.50 Wib, melalui sebuah seremonial, selubung perlahan terbuka. Burhan dengan antusias memperhatikan menit demi menit sampai akhirnya selubung pun terlepas. Dua gerbong kereta bermotif batik terpampang. Gerbong yang satu bermotif dasar putih dengan hiasan motif coklat bergambar garuda dan sulur-sulur motif Jawa. Gerbong lainnya didominasi warna kuning.

Kereta batik

Kereta batik

Begitu selubung terbuka, senyum mengambang di wajah Burhan. “Motifnya bagus dan enak dilihat,” katanya. Selain itu, menurut dia kehadiran kereta batik bisa membuat penumpang senang dan nyaman. Apalagi motif batik tidak hanya ada di badan luar kereta, tetapi juga di dalam. “Sayangnya tidak semua gerbong yang diberi motif batik,” ujarnya. Puas mengamati, dia pun segera masuk dalam kereta.

Tak hanya penumpang tujuan Cirebon yang bahagia. Penumpang tujuan Surabaya yang saat itu tengah menunggu keberangkatan ikut bahagia. Puluhan orang yang duduk di bangku tunggu tak henti memandang dua gerbong berhias motif asli Indonesia itu.

Koordinator Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Nia Syafruddin, yang pagi tadi mengantar mertua dan keluarganya menunggu kereta tujuan Surabaya menyambut positif kehadiran kereta motif batik ini. “Anak-anak saya senang sekali,” katanya. Kata dia kehadiran kereta api bisa mempromosikan batik ke tengah masyarakat.

Bahkan, Nia meminta kereta batik bisa dikembangkan lagi. Tidak hanya kereta Jakarta-Solo dan kereta Jakarta-Cirebon. “Kalau bisa semua kereta di Indonesia diberi motif yang berbeda supaya lebih dikenal,” jelasnya. Hal ini, kata dia, bisa lebih mendekatkan masyarakat dengan budaya bangsa.

Sambil menunggu kereta jurusan Surabaya datang, bersama keluarga Nia tidak lupa mengabadikan momen pagi tadi. Jepret, beberapa kali kamera telepon genggam mengabadikan momen. Tak lupa mertua dan anak-anaknya berpose dengan latar belakang kereta.

Tepat pukul 09.05 Wib, peluit ditiup oleh Mustafa Abubakar. Tut…tut.., kereta pun meluncur gagah meninggalkan Stasiun Gambir.

Perihal Dot
DOT Productions Owner, kami bergerak di bidang jasa Percetakan, Advertising, yang sudah beroperasi sejak tahun 2000. Selain itu kami Juga Merintis sebuah Band Underground dengan konsep Pelestarian budaya bangsa pada khususnya Kuda Lumping. Band dengan Tittle "Debis Of ancesTor" Atau DOT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: