KHOTBAH NABI S.A.W. MENYAMBUT RAMADHAN


Souvenir_KHOTBAH NABI S.A.W. MENYAMBUT RAMADHAN_”Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah mewajibkan kepadamu puasa-Nya. Didalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu syurga dan dikunci segala pintu neraka dan
dibelenggu seluruh syaithan. Padanya ada suatu malam yang terlebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa Baca pos ini lebih lanjut

Iklan Yesus nabi Islam_di Mypeace? Heboh dikampanyekan.!!????!!!


Souvenir_Iklan Yesus nabi Islam_di Mypeace_Berita yang satu ini sangat menggemparkan dan cukup mengundang perdebatan bahkan cenderung bisa menimbulkan anarkis perseteruan antar umat beragama, untuk itu, saya tidak berani mengedit tulisan dari sumber berita yang ada, melainkan hasil terjemahan langsung dari Google, silahkan anda simak baik – baik dan pahami sendiri isi berita berikut ini. (Ma’af, kami hanya menyajikan Fakta) Baca pos ini lebih lanjut

Sebenarnya_Osama Bin Laden Sudah Meninggal sejak 2001.


Souvenir_Sebenarnya_Osama Bin Laden Sudah Meninggal sejak 2001._Sebuah Buku mengklaim bahwa Bin Laden meninggal karena gagal ginjal, atau keluhan penyakit yang mengidapnya, pada tanggal 13 Desember 2001, ketika tinggal di Afghanistan di pegununganTora Bora dekat perbatasan dengan Waziristan.

Ia dimakamkan sesuai dengan aturan agama Islam, dengan kuburan bernisan, yang juga merupakan adat kaum Wahhabi. Sang Penulis menegaskan bahwa banyak kaset Osama Bin Laden sejak tanggal kematiannya sebagai propaganda dunia Barat untuk membuat dunia percaya Bin Laden masih hidup. Tujuannya? Baca pos ini lebih lanjut

Debat Film “?”_Sesat?!!


film tanda tanya

film tanda tanya

Souvenir_Debat Film “?”_Sesat_Berikut cuplikan perdebatan antara reporter Suara Islam Abdul Halim dengan sutradara liberal Hanung Bramantyo mengenai Film “?” di forum facebook.

Abdul Halim Ayim 09 April jam 5:42

Film terbaru anda keterlaluan. Film semacam itu hanya bisa dibuat oleh orang berfaham atheis atau hatinya dipenuhi dengan kebencian terhadap syariat Islam. Anda takabur dan besar kepala, ingin mencoba kesabaran umat Islam Indonesia. Semoga Allah SWT membalas dengan balasan setimpal atas kejahatan anda selama ini terhadap umat Islam.

Hanung Bramantyo Anugroho 09 April jam 15:16

Laporkan Bagian mana yg anda anggap keterlaluan? Jangan2 anda belom menonton secara keseluruhan lalu berkomentar dan menuduh saya tidak beriman. Sesungguhnya dg anda menuduh sprt itu, sikap anda yg keterlaluan

Abdul Halim Ayim 10 April jam 6:32

Saya termasuk pemerhati film-film anda, sejak Perempuan Berkalung Sorban, Sang Pencerah dan terakhir ?, bahkan film film anda sebelum PBS. Disitu saya rasakan banyak nuansa PKI alias marxismenya. Hanya sang pencerah yang saya nilai 5 karena aktornya seorang murtad. Seandainya bukan seorang murtad, akan saya nilai 6. Masak tokoh sebesar KH Ahmad Dahlan diperankan seorang murtad, apa tidak ada aktor lain, apa itu bukan penghinaan ! Lainnya saya nilai 2 alias sangat sangat sangat jelek sekali karena menghina Islam dan umat Islam. Makanya Taufiq Ismail tidak pernah mau ketemu dengan anda. Saya sendiri seorang wartawan di Jkt dan pernah wawancara dengan Taufiq Ismail tentang film anda ! Anda menuduh sikap saya keterlaluan, kalaupun benar saya hanya keterlaluan kepada diri anda sendiri. Tetapi yang jelas anda sudah keterlaluan dan menghina serta merendahkan martabat Islam dan umat Islam. Seandainya anda tinggal di Pakistan, Afghaniustan atau Bangladesh, saya tidak tahu lagi bagaimana nasib anda. Anda pasti sudah kabur ke luar negeri. Untung anda tinggal di bumi Indonesia yang rakyatnya terkenal dengan keramah tamahan dan santunannya. Tetapi yang jelas, saya tidak pernah menuduh anda tidak beriman. Kalimat mana yang mengatakan anda tidak beriman. Masak sebagai sutradara film kok tidak teliti, makanya film-filmnya tidak bermutu dan penuh dengan fitnah dan kebencian terhadap Islam dan umat Islam.

Hanung Bramantyo Anugroho 12 April jam 23:51

Laporkan Jawab dulu pertanyaan saya, bung. Bagian mana yg merendahkan islam?

Abdul Halim Ayim 13 April jam 5:36

Film “?” yang anda sutradarai penuh dengan fitnah, kebencian dan merendahkan martabat Islam dan umat Islam. Film anda penuh dengan ajaran sesat pluralisme yang menjadi saudara kandung atheisme dan kemusyrikan.

—–Pertama, ketika pembukaan sudah menampilkan adegan penusukan terhadap pendeta, kemudian bagian akhir pengeboman terhadap Gereja. Jelas secara tersirat dan tersurat, anda menuduh pelakunya orang yang beragama Islam dan umat Islam identik dengan kekerasan dan teroris.

—–Kedua, menjadi murtad yang dilakukan oleh Endhita (Rika) adalah suatu pilihan hidup. Kalau semula kedua orangtua dan anaknya menentangnya, akhirnya mereka setuju. Padahal dalam Islam murtad adalah suatu perkara yang besar dimana hukumannya adalah qishash (hukuman mati), sama dengan zina yang dirajam.

—-Ketiga, muslimah berjilbab, Menuk (Revalina S Temat) yang merasa nyaman bekerja di restoran Cina milik Tan Kat Sun (Hengki Sulaiman) yang ada masakan babinya. Anda ingin menggambarkan seolah-olah babi itu halal. Terbukti pada bulan puasa sepi, berarti restoran itu para pelanggannya umat Islam.

—-Keempat, seorang takmir masjid yang diperankan Surya (Agus Kuncoro) setelah dibujuk si murtadin Menuk, akhirnya bersedia berperan sebagai Yesus di Gereja pada perayaan Paskah. Apalagi itu dijalaninya setelah dia berkonsultasi dengan ustad muda yang berfikiran sesat menyesatkan pluralisme seperti anda yang diperakan David Chalik. Namun anehnya, setelah berperan menjadi Yesus demi mengejar bayaran tinggi, langsung membaca Surat Al Ikhlas di Masjid. Padahal Surat Al Ikhlas dengan tegas menolak konsep Allah mempunyai anak dan mengajarkan Tauhid. Apa anda ini kurang waras wahai si Hanung. Semoga pembalasan dari Allah atas diri anda.

—–Kelima, tampaknya anda memang sudah gila, masak pada hari raya Idul Fitri yang pebuh dengan silaturahmi dan maaf memaafkan, umat Islam melakukan penyerbuan dengan tindakan anarkhis terhadap restoran Cina yang tetap buka sehari setelah Lebaran. Bahkan sebagai akibat dari penyerbuan itu, akhirnya si pemilik Tan Kat Sun meninggal dunia. Setelah itu anaknya Ping Hen (Rio Dewanto) sadar dan masuk Islam demi menikahi Menuk setelah menjadi janda karena ditinggal mati suaminya Soleh (Reza Rahadian), seorang Banser yang tewas terkena bom setelah menjaga Gereja pada hari Natal. Jadi orang menjadi muslim niatnya untuk menikahi gadis cantik. Sebagaimana anda menjadi sutradara berfaham Sepilis dengan kejam menceraikan istri yang telah melahirkan satu anak demi untuk menikahi gadis cantik yang jadi pesinetron. Film ini kok seperti kehidupan anda sendiri ya ?

—–Keenam, si murtadin Endhita minta cerai gara-gara suaminya poligami. Karena dendam, kemudian dia menjadi murtad. Anda ingin mengajak penonton agar membenci poligami dan membolehkan murtad. Padahal Islam membolehkan poligami dan dibatasi hingga empat istri dan melarang dengan keras murtad dengan ancaman hukuman qishash. Seandainya anda setuju dan poligami dengan menikahi si pesinetron itu, anda tidak perlu menceraikan istri dan menelantarkan anak anda sendiri sehingga tanpa kasih sayang seorang ayah kandung dan dengan masa depan yang suram. Kasihan benar anak dan istri anda korban dari seorang ayah yang kejam penganut faham pluralisme dan anti poligami.

——Ketujuh, anda menghina Allah SWT dengan bacaan Asmaul Husna di Gereja dan dibacakan seorang pendeta (Deddy Sutomo) dengan nada sinis dan melecehkan. Masya’ Allah !

—–Kedelapan, anda menfitnah Islam sebagai agama penindas dan umat Islam sebagai umat yang kejam dan anti toleransi terhadap umat lain terutama Kristen dan Cina. Padahal sesungguhnya meski mayorits mutlak, umat Islam Indonesia dalam kondisi tertindas oleh Kristen dan Katolik serta China yang menguasai politik, ekonomi dan media massa. Anda tidak melihat kondisi umat Islam di negara lain yang minoritas seperti Filipina Selatan, Thailand Selatan, Myanmar, India, Cina, Asia Tengah, bahkan Eropa dan AS.

Mereka sekarang dalam kondisi tertindas oleh mayoritas Kristen dan Katolik, Hindu, Budha dan Komunis. Jadi anda benar-benar subyektif dan dipenuhi dengaan hati penuh dendam terhadap umat Islam. Kesembilan, film ini mengajarkan kemusyrikan dimana semua agama itu pada hakekatnya sama untuk menuju tuhan yang sama. Kalau semua agama itu sama, maka orang tidak perlu beragama.

Jadi film anda ini dengan sangat jelas mengajarkan faham atheisme dan komunisme. Terakhir, nasehat saya, bertobatlah segera sebelum azab Allah SWT menimpa anda, karena hidup di dunia ini hanya sementara dan tidak abadi. Belajarlah kembali mengenai Islam yang benar sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, bukan Islam yang diambil dari kaum Orientalis Barat dan para sineas berfaham sepilis yang sudah sangat jelas memusuhi Islam dan umat Islam.

Film “?” Ini Hasil Analisa Direktur “Lembaga Kajian Islam dan Arab” (LemKIA).


film tanda tanya

film tanda tanya


Souvenir_Ini Hasil Analisa Direktur “Lembaga Kajian Islam dan Arab” (LemKIA)._
Hari Rabu 13 April 2011 pukul 15.10, penulis berkesempatan menonton film “?”(Tanda Tanya) di Jakarta Theater. Awalnya, saya selaku Direktur Lembaga Kajian Islam dan Arab (LemKIA) Universitas Islam As-Syafi’iyah yang juga anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI, ditunjuk oleh Rektor UIA Ibu Prof. DR. Hj. Tutty Alawiyah AS (Ketua MUI bidang Advokasi Perempuan dan Perlindungan Anak), untuk mewakili beliau memenuhi undangan pimpinan MUI menonton film yang kontroversial itu.

Tampak hadir beberapa pimpinan yang saya kenal, Slamet Efendi Yusuf (Ketua MUI Bidang Kerukunan Umat Beragama), Ichwan Syam (Sekjend MUI), KH. Muhyiddin Junaidi (Ketua MUI Bidang Kerjasama Luar Negeri), dan lain-lain. Nonton Bareng (nobar) unsur pimpinan MUI itu sendiri adalah keputusan musyawarah rapat pimpinan MUI sehari sebelumnya pada 12 April menyusul desakan dan masukan para tokoh dan masyarakat luas kepada MUI untuk menanggapi resmi terhadap konten film tersebut. Para pimpinan MUI sepakat bahwa agar tidak salah menanggapi maka harus menonton terlebih dahulu secara utuh dan bukan atas dasar informasi setengah-setengah.

Duduk di kursi deretan D no. 9, sedari awal saya sudah penasaran. Dan sejak detik pertama tayang, saya terus khusuk memperhatikan dan mencatat setiap kalimat, gerak, adegan dan cuplikan gambar yang ditampilkan.Hampir tak ada satu cuplikan pun yang luput dari perhatian dan kepekaan saya, insya Allah.

Kesan umum yang ditampilkan film besutan sutradara Hanung Bramantyo dari awal sampai akhir adalah fakta yang disodorkan kepada penonton bahwa Islam dus umatnya adalah agama yang kasar, penuh dengan sikap picik dan kebodohan, intoleran, eksklusif, rasis, suka anarkisdan bahkan menebar terror!

Citra Islam dan umatnya betul-betul babak belur ditampilkan oleh sang sutradara film. Sementara agama dan etnis tertentu (dalam hal ini Katolik dan etnis China) diangkat setinggi langit dan digambarkan sebagai penuh kesantunan, kesabaran, pengertian, penuh kasih, toleran dan sering (tentu saja) jadi korban kekerasan umat Islam.

Adegan pembukanya saja, yang berupa penusukan terhadap seorang pastur gereja katolik sesaat sebelum kebaktian di halaman gereja, sudah menebarkan fitnah dan kesan kuat bahwa umat Islam adalah otak pembunuhan itu. Adegan itu hanya menampilkan insidenpenusukan dan berita media elektronik yang mengutip pernyataan pejabat (dalam hal ini Walikota Semarang) bahwa insiden itu tak ada kaitannya dengan isu agama, alias tindakan kriminal murni. Tanpa ada klarifikasi pengadilan, dalam cerita itu,tentang motif insiden dan siapa pelakunya sama sekali. Namun, siapa pun akan mudah berkesimpulan bahwa tuduhan itu diarahkan kepada muslim apalagi itu dilakukan di Negara mayoritas beragama Islam. Kesan ini sudah jadi rahasia umum, bung!

Stereotype Buruk Umat Islam

Alih-alih ingin mengirimkan pesan kuat dari film tentang pentingnya kerukunan dan toleransi hidup umat beragama di tanah air. Justru alur dan segmen cerita yang mengalir dalam film berdurasi 110 menit (dalam hitungan saya) itu menyuguhkan penggambaran buruk alias stereotipikal terhadap umat Islam, dan tak ketinggalan pula pendiskreditan atas beberapa ajarannya.

Dalam film itu pimpinan dan pengikut Katolik digambarkan seindah dan sebaik mungkin. Toleran dan bijak adalah sifat mereka. Ketika muncul protes atas peran seorang muslim bernama Suryo dalam drama penyaliban Yesus Kristus dalam perayaan jumat agung Paskah, tampil Romo katolik yang membela peran tersebut dan meyakinkan jemaat yang protes. “Tak pernah ada dalam sejarah, kehancuran iman disebabkan pementasan drama, tapi hanya kebodohan lah yang jadi penyebab kehancuran iman”, tukas Sang Romo. Bandingkan dengan sikap umat muslim yang digambarkan penuh kebencian dan intoleran terhadap penganut agama lain, seperti tindakan penusukan dan pengiriman paket bom Natal di dalam gereja saat misa malam Natal.

Dengan cerdiknya pula, sang sutradara memang tak menampilkan pemuka agama Islam yang arogan, intoleran dan menebarkan kebencian terhadap penganut agama lain. Namun yang dimunculkan adalah sosok ustad pemuka agama yang inklusif – pluralis dan bahkan mendukung aksi Suryo yang memerankan Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: